GADGET TEMAN BERMUKA DUA

GADGET TEMAN BERMUKA DUA

GADGET TEMAN BERMUKA DUA
Oleh: Nur Kholis Huda, M.Pd.

"Sekarang zaman android", begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan perkembangan teknologi belakangan ini. Hampir di seluruh pelosok negeri, mulai dari perkotaan sampai merambah ke ujung desa sekalipun, kita bisa melihat nyaris semua golongan usia menggunakan gadget, tak terkecuali yang berbasis android. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun sudah bisa mengakses konten di dunia maya melalui gadget mereka. Kadang terlihat lucu ketika balita yang belum paham tentang dunia sosial sudah lihai "menyelam" dalam internet yang merupakan sarana interaksi sosial. Tanpa kita sadari, mereka memainkan permainan online (meskipun sederhana) atau mengoperasikan gadget untuk memutar video dari youtube. Yang sebenarnya, potensial membawa dampak negatif bagi mereka.

Gadget memang diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia dalam mempermudah penyebaran informasi dan komunikasi. Meskipun bertujuan untuk mempermudah, gadget atau juga kerap disebut gawai, merupakan alat yang harus dibatasi penggunaannya. Sebab, piranti tersebut bisa bersifat adiktif yang akan mempengaruhi sistem tubuh, terutama bagi usia anak-anak.


Bukan hal baru lagi bila menyebut kebiasaan menggunakan gadget, seperti smartphone atau tablet pada anak dapat berdampak membuat anak mengalami efek adiktif (kecanduan). Sayangnya, masih banyak orang tua yang mengabaikan kenyataan ini. Padahal telah banyak fakta yang menunjukkan dampak negatif anak yang menderita kecanduan menggunakan gadget, mulai dari gangguan tidur, menurunkan kemampuan berbicara, menulis, hingga masalah lainnya yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak.

Efek kebiasaan menggunakan gadget mampu mempengaruhi fungsi frontal cortex (bagian pada otak besar manusia) dan kemampuan kontrol. Tidak heran, jika banyak orang tua yang mendapati anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk memainkan gadget mereka dan justru menjadi gelisah bahkan menangis sejadi-jadinya saat waktu menggunakan gadget dikurangi atau dicegah.

Batasi
Cara paling efektif untuk membatasi penggunaan gadget kepada anak adalah dengan membuat aturan sejak dini. Artinya, saat pertama kali anak dikenalkan pada gadget, mereka sudah diberikan pula aturan untuk memainkannya. Perlu adanya kesepakatan dalam penggunaan gadget tersebut, seperti menentukan waktu-waktu tertentu, kapan boleh tidaknya menggunakan benda itu. Termasuk, untuk apa saja benda itu boleh dipakai.

Dengan demikian, anak terbiasa untuk menggunakan gadget dengan sadar diri sesuai ketentuan yang telah disepakati. Sehingga kemungkinan mereka untuk mencuri-curi waktu akan berkurang karena sudah dibiasakan sejak kecil. Peran orang tua dalam pembatasan penggunaan gadget memang sentral. Teladan dari orang tua akan memberikan ketaatan anak dalam aturan tersebut. Jangan sampai anak melakukan aturan yang disepakati, sedangkan orang tua tetap bermain gadget di depan anak, apapun alasannya. Bila orang tua melanggar peraturan, sangat mungkin justru memberi contoh di alam bawah sadar anak untuk berperilaku serupa. 

"Kesakralan" Liburan
Liburan bisa menjadi momen buat orang tua untuk lebih mendekatkan diri dengan anak. Orang tua bisa lebih mengetahui perkembangan, karakter, dan sikap anak. Maka dari itu, kita perlu meluangkan waktu untuk mengajak keluarga berlibur ke berbagai tempat menyenangkan tanpa gadget.

Liburan keluarga penting untuk menghentikan sejenak rutinitas sehari-hari. Buang jauh-jauh gadget ketika orang tua sedang menikmati waktu berkualitas bersama anak. Jangan sampai sang buah hati melihat kita sedang asyik dengan gadget, saat dia ingin bertanya atau mengungkapkan perasaan tentang liburan ataupun kegiatan kesehariannya.

Jika anak sering melihat orang tua bermain gadget, pastinya anak akan cenderung meniru kebiasaan tersebut. Untuk mewaspadai kemungkinan terburuk terjadi pada anak, orang tua bisa memulai dari diri sendiri. Intinya, gunakan gadget sebagai sarana pelengkap kebutuhan, pada waktu dan suasana yang telah disepakati bersama.

Comments