Mencermati Murid Tertekan di Sekolah

Mencermati Murid Tertekan di Sekolah

Oleh: Djuhaeri, M.Pd.

Rekaman tentang murid berprestasi di sekolah sudah biasa kita dengar. Mungkin yang agak luput dari perhatian kita adalah murid yang menjadi korban bullying, yakni tekanan (baca: teror) yang berlangsung selama di sekolah. Teror yang dimaksud antara lain berupa ejekan, gosip, pengucilan, pelecehan, pemalakan, fitnah, intimidasi, maupun kekerasan fisik atau mental lainnya. 
Teror! Benarkah peristiwa itu ada? Lantas bagaimana ia terjadi di lingkungan sekolah? Untuk melihat itu semua, indikasinya bisa kita dapatkan pada korban. Pada tahap paling dini memang sulit ditengarai gejalanya. Korban bullying tetap melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Bermain maupun dalam bersekolah. Tak jarang mereka dapat pula berprestasi lumayan. Namun, dalam kategori ringan, korban menunjukkan gejala selalu tampak murung, menyendiri, kurang konsentrasi saat menerima pelajaran, gelisah, tak merasa nyaman dalam kelas, dan sebagainya. Yang terberat jika murid korban bullying tak mampu lagi berbicara dengan baik, tak bisa menjawab pertanyaan, meski sangat sederhana. Kehilangan rasa percaya diri atau bahkan mogok sekolah.
Menurut psikolog Ratna Juwita, bullying sebenarnya berlangsung sejak TK saat anak berebut mainan danmmemaksakan kehendak pada teman seusia. Berlanjut pada semua tingkatan sekolah, dari SD sampai SMA dengan pemaksaan kehendak lain yang lebih dari sekadar berebut mainan. Bisa mengompas atau melakukan pemalakan, atau minta dengan ancaman untuk menyontek pekerjaan teman, umpamanya. Di sekolah dengan rombongan belajar 30 orang lebih dalam satu kelas berpotensi memunculkan suasana bullying dibanding sekolah dengan jumlah murid terbatas.
Pengakuan orang tua yang anaknya menjadi korban bullying berikut ini mengungkap fakta lain tentang bullying yang cukup mengagetkan. Fakta yang patut menjadi perenungan semua orang tua dan guru. “Beban PR, tugas, dan kurikulum bagi anak luar biasa beratnya. Ini masih ditambah godaan konsumtif mal, televisi dan internet. Sementara kami, ayah ibunya, terus bekerja sampai tak cukup waktu untuk memperhatikan anak-anak, “ ujar seorang wali murid suatu ketika. 
Pengakuan tersebut mengisyaratkan bahwa bullying bukan hanya pemaksaan kehendak seseorang murid kepada murid lain dalam interaksi sosial di sekolah. Tetapi materi pelajaran yang padat saat ini ternyata ikut andil mempersubur bullying. PR dan tugas berlebihan yang diberikan guru pun, bagi murid-murid tertentu merupakan teror yang patut diwaspadai. Bagaimana murid kelas 1 SD misalnya, harus mengerjakan soal-soal dalam UTS atau UAS pada semester pertama ketika mereka rata-rata belum mahir benar mencerna kalimat. Bukankah ini target kurikulum yang bertujuan bagus, namun meneror psikis dan fisik murid kelas 1 SD secara struktural?.
Pada umumnya guru maupun orang tua hanya menerapkan jurus “marah” dan “main perintah” ketika berhadapan dengan anak-anak. Marah ketika anak-anak berperilaku tak sesuai dengan aturan dan kehendak orang dewasa. Main perintah karena guru maupun orang tua merasa sok kuasa. Bahwa anak-anak sebenarnya mempunyai kemauan dan kebutuhan sendiri sering kurang diperhatikan.
Atas nama aturan dan target kurikulum, maka bullying lembaga sekolah terhadap murid pun menjadi legal. Murid terpaksa melahap target kurikulum tanpa mampu memilih pelajaran yang sesuai benar dengan kapasitas dan kebutuhan dirinya. Fakta semacam ini laiknya lingkaran hantu yang berlangsung sejak lama dan kita menganggapnya lumrah. 

Kerjasama Semua Pihak 
“Tindakan (termasuk ucapan) apapun dapat dianggap sebagai bullying kalau ada efeknya terhadap anak,” kata Dr.Andrew Miller dari Jaringan Anti Bullying Skotlandia. “Efek itu antara lain berupa rasa malu dan takut,” sebutnya lagi.
Tindakan lembaga sekolah atau guru terhadap murid selama tak menjurus ke arah bullying, sesungguhnya masih relatif dapat diterima. Bagaimana tindakan (termasuk ucapan) yang tidak menimbulkan rasa malu dan takut mesti kita lakukan? Inilah persoalannya. Persoalan yang mudah dibicarakan, namun sukar dilaksanakan.
Diperlukan kesabaran berlipat-lipat, wawasan kejiwaan mendalam, dan pengertian yang mamadai terhadap pola karakter anak. Paling tidak, dengan bekal ini setiap tindakan terhadap anak akan lebih terukur. Tidak berlebihan. Tidak emosional dan sewenang-wenang. Untuk mengurangi bullying di sekolah, sampaikan juga pujian, motivasi, serta aplaus untuk murid-murid kita, mengapa tidak?. 
Tampaknya guru dan orang tua cuma suka memompa energi anak-anak agar mereka berprestasi saja. Namun selama ini lupa memberi aplaus dan pujian yang ikhlas, sesuatu yang esensial dan sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Mereka juga butuh motivasi positif, bukan sekadar terima perintah dan tuntutan pencapaian target. Seperti kita, guru dan orang tua, anak-anak juga manusia yang layak kita hormati. 
Mengapa kita sulit menyajikan sesuatu yang simpatik di hadapan anak-anak? Bertindak dan berucap yang mengesankan, yang membikin mereka tidak merasa malu atau ketakutan. Mengapa kita selalu menekan anak-anak dengan pemaksaan kehendak yang mengusutkan jiwa mereka. 
Bullying antarmurid di sekolah kemungkinan besar sebuah model yang ditiru murid dari bullying antara guru terhadap murid, antara orang tua terhadap anak-anaknya, pun bullying yang terjadi dalam masyarakat. Misalnya, murid yang pintar mengejek temannya yang kurang pandai. Murid bertubuh perkasa meledek temannya yang bertubuh ringkih. Murid gaul mengucilkan temannya yang pendiam. Pendek kata, si kuat meneror si lemah, baik secara fisik maupun psikis. 
Bagi yang tidak mengalami mungkin saja menganggap hal ini sebagai peristiwa biasa, guyonan antarmurid. Namun bagi korban, sungguh ini merupakan tekanan hidup yang amat berat. 
Kalau peristiwa bullying semacam itu dibiarkan terus berlangsung akan mengakibatkan si korban menderita depresi. Sebaliknya, pelaku bullying akan tumbuh menjadi kriminal atau sosok penguasa yang tak memiliki empati terhadap orang lain.
Tergambar di situ, baik pelaku atau korban bullying antarmurid di sekolah sama- sama menanggung risiko yang tidak ringan. Bila masalah ini dibiarkan berlalu tanpa penyelesaian, maka akumulasi tekanan yang dipendam sendiri oleh korban, akan membuat yang bersangkutan semakin minder. Sementara si pelaku kian semena-mena melakukan aksinya. 
Untuk memperkecil terjadinya bullying antarmurid, ada baiknya para pendidik berusaha bergaul akrab dengan murid. Sekat posisi antara guru dengan murid dalam kelas harus diupayakan cair di luar kelas. Dengan mendekatkan diri kepada murid, kita langsung paham bila ada sesuatu yang kurang beres. Meskipun sulit, karena anak-anak biasanya langsung bungkam kalau gurunya nimbrung. 
Perlu kiranya guru juga menyediakan jam-jam khusus curhat untuk mendengarkan berbagai cerita para murid. Sambil memantau apakah ada korban bullying di situ. Selain itu, hendaknya murid dibekali pengertian yang berhubungan dengan interaksi sosial, seperti menghormati, tanggung jawab, kemampuan komunikasi interpersonal, serta pemahaman lebih dalam mengenai pengaruh tindakan seseorang terhadap orang lain maupun lingkungannya. 
Faktor lain untuk mengatasi masalah bullying adalah merampingkan rombongan belajar besar sampai maksimal tinggal 30 orang murid saja dalam satu kelas. 
Untuk mengatasi masalah bullying antar murid, meski terjadi di lingkup sekolah, tak bisa sepenuhnya diserahkan kepada guru. Kerja sama semua pihak: guru, orang tua dan lingkungan akan sangat membantu penyelesaian masalah ini. Komunikasi akrab dan saling menghormati disertai komitmen kuat semua pihak, tentu suatu saat akan mampu merampungkan kasus bullying di sekolah. Minimal menguranginya. (*)

Comments