Pesantrenisasi Zona Pendidikan

Pesantrenisasi Zona Pendidikan

Oleh: Dzihan Zahriz Zaman, S.Pd., M.Pd.

Negeri ini boleh jadi sedang dirundung duka yang mendalam. Tak cukup melalui berita meriahnya kasus degradasi mental dan moral. Beberapa kasus memalukan dari segala lini patut mendapatkan perhatian dari kaum-kaum cendekiawan. Indonesia, yang konon katanya menganut teguh sila kemanusiaan yang adil dan beradab, justru sedang tumbang oleh jati dirinya sendiri. Kibaran pusakanya terombang-ambing oleh angin yang hembusannya di produksi dari suntuknya pola nurani rakyat yang diracun sistem birokrasinya tak kunjung ber-pekerti.
Padahal, ribuan universitas telah berani mewisuda dengan seksama mahasiswa-mahasiswanya secara administratif yang "sarat" akan gengsi. Namun, entah kemana larinya para wisudawan, hingga untuk berbicara seputar pendidikan, dan atau keterdidikan di negeri pertiwi ini, bisunya melebihi merajut tikar dengan bola-bola api. Kemudian barulah muncul pertanyaan, benarkah di dalam lingkaran kampus-kampus negeri ini, sudah hilang ruh dari atmosfir pendidikan? Jika ya, adakah peran yang lebi hdomain di lembaga-lembaga pemerintah hari ini yang nilainya lebih luhur dari ilmu? Pertiwi ini terlalu riskan jika kemerdekaannya ada di pundak para pengemis tak ber-Tuhan.
Sebelum gencar menumbalkan etika dan moralitas kemanusiaan sebagai biang dari runtuhnya singgasanak epribadian, pendidikan, diakui atau tidak, merupakan dasar tali penting atas alasan di balik bobrok dan tidaknya lingkungan. Disinilah guru seharusnya muncul nilainya sebagai pahlawan. Para cendekiawan dituntut membuktikan proses akademisnya bahwa ilmu bukan sebatas lembaranlembaran yang orientasinya pada nominal-nominal mata uang. Teramat kasihan jika maqam kemuliaan guru pada akhirnya bergeser akibat ulah beberapa oknum yang ejakulasi profesi demi perutnya kenyang.
Jika perbincangan seputar otoritas kaum pendidik saja tak pernah menjumpai titik renyah sebagai problem solver, maka keluhan-keluhan tentang merosotnya generasi negeri adalah bahasan yang sia-sia. Bagaimana mampu bercita-cita panen padi, sedangkan yang menjadi petani adalah komunintas hedonis berkelopak mata harga diri. Sungguh padi adalah tanaman yang tak akan menjadi nasi jika dalam prosesnya, siibu lebih memilih sibuk membeli kamera selfie ketimbang tabah dan telaten 'mususi'.
Menilik sejenak lembar masa lalu, bagaimana gigih dan juangnya para pendahulu dalam menebar benih-benih ilmu. Bagaimana kokohnya benteng rantai-rantai moralitas di tangan para ulama (yang juga berposisi sebagai guru). Melalui media pesantren, tradisi dan ilmu menjadi tolak ukur bangkitnya sejarah kenegaraan. Melalui bingkai wara', kebenarankebenaran mengapung dengan sendirinya, menenggelamkan segala bentuk lumbung kerusakan. Saat itu, manusia-manusia pemerhati ilmu bahkan belum terlalu lihai meramu sistem dan capaian-capaian pembelajaran. Namun, justru menghasilkan pola tujuan agung yang hingga saat ini mampu dirasakan.
Ada yang menarik dan butuh dikaji lebih dalam terkait kesuksesan dunia pesantren dalam menempuh visi dan misinya. Pesantren dengan berbagai upayanya men-goalkan visi keilmuannya, memilih untuk menggarap keras moralitas dan etika terlebih dahulu, sebelum akhirnya merambah poin-poin pendidikan dari lini-lini yang telah dipilih. Pesantren mengenal beberapa prinsip dasar, diantaranya Pertama, Theocentric, prinsip ini memandang bahwa segala aktifitas manusia harus diarahkan pada pencapaian nilai ibadah pada Tuhannya. Semua aktifitas pendidikan merupakan proses integral dalam totalitas kehidupan, sehingga belajar di pesantren tidak dianggap sebagai alat, tetapi dipandang sebagai tujuan.
Kedua, prinsip sukarela dan mengabdi. Para pengasuh pesantren menganggap segala aktifitas pendidikan merupakan ibadah kepada Allah. Oleh karena itu, penyelenggaraan pesantren dimulai dari kesukarelaan seseorang yang bersamanya adalah semangat pengabdian demi tujuan ibadah. Seorang santri meyakini bahwa menghormati kiai, atau ustadnya adalah sebuah keharusan. Tanpa memuliakan keilmuan kiai, ataupun ustad, seorang santri mustahil akan memperoleh keridhoan dari Allah atas keberkahan ilmunya.
Ketiga, prinsip kearifan. Dengan kata lain, pesantren sampai hari ini terbukti menitik-tekankan pada konsep kearifan dalam semua bidangnya. Penekanan laku kesabaran, rendah hati, berlaku adil, dan sebagainya, harus menjadi capaian untuk tujuan manfaat bersama. Mengembangkan diri tanpa saling menjatuhkan, rela atas ketetapan tanpa harus ada saling tuding menyalahkan, semuanya telah menjadi rutinitas keseharian yang mengakar menjadi karakter sesorang yang mengaku dirinya santri.
Keempat, prinsip mengagungkan ilmu. Seorang santri (pelajar) tidak akan mencapai kesuksesan ilmu maupun kemanfaatan darinya, melainkan dari caranya dalam memuliakan ilmu itu sendiri. Dikatakan, tidak akan mendapatkan kemuliaan dari sesuatu, selain dengan ia memuliakan sesuatu tersebut.
Beberapa poin di atas merupakan poin-poin dasar yang gigih dipegang pesantren dalam pola pendidikannya. Dan sebagian besar dari mereka, terbukti berhasil mencetak kaderkader generasi yang kompeten sekalipun terjun di ranah nonpesantren. KH. Abdurrahman Wahid, alias almarhum Gus Dur adalah contoh konkrit bahwa jebolan pesantren sanggupbersaing baik secara keilmuan maupun peran di lingkup global.
Selain pernah menjadi presiden RI, beliau juga terkenal sebagai tokoh pluralisme, pemegang erat ideologi-ideologi kebangsaan, dengan tetap berpegang teguh pada norma etika sosial. Hal tersebut merupakan hasil yang dipanennya dari proses belajar di pesantren. Selain itu, ada juga Prof. Dr. Quraisy Shihab, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), dan sebagainya ,yang tak hanya bukti bahwa pesantren itu masyarakat cupu dan ndeso. Indonesia kaya dengan kader santri, mulai dari aspek kenegaraan, kebudayaan, kesenian, keagamaan, bahkan hingga intelektualitas keilmuan. Hanya saja, domain dari lingkaran-lingkaran tersebut mayoritas diisi oleh kalangan nonpesantren.
Begitu hangat ketika mendengar kiprah-kiprah pendidikan dalam pesantren Indonesia, namun akan kembali menemukan benang kusut saat mengembalikan seluruhnya dalam lingkup pendidikan secara global. Ilmu selamanya tidak akan pernah mampu dikalahkan bentuk kezaliman apapun. Hanya saja, substansialnya akan pelan-pelan tergeser jika ia dibenturkan dengan sistem dan paradigma yang menyimpang dari tujuan ilmu itu sendiri. Artinya, jika Indonesia hari ini kendor seputar keilmuan, yang patut mendapat tinjauan lebih adalah prinsip dan sistem terapan yang dipegang teguhnya. Ilmu tetaplah ilmu. Sistem hanyalah sebatas aturan untuk meraihnya, dan prinsip lebih ber-orientasi pada keyakinan seseorang dalam menggapai apa yang diinginkan. Pemerintah yang dalam bidangnya bertanggungjawab atas keberhasilan pendidikan di Indonesia, baiknya mampu menimbang berbagai aspirasi yang masuk akal. Memang dalam hal ini, bukan hanya pesantren saja yang memiliki peran positif dalam membangun kiprah pendidikan, khususnya di Indonesia.
Carut marut pendidikan di Indonesia, diakui atau tidak, memiliki banyak faktor. Diantara sekian dari faktor tersebut adalah adanya kepentingan pribadi yang bergerak dalam sistem-sistem yang lemah. Akhirnya, sistem hanyalah sebuah alat yang dijadikan tujuan memperoleh hal lain selain ilmu.
Poin inilah yang menjadi dasar jungkirbaliknya pendidikan di negara kita. Namun, belum terlambat jika upaya-upaya pembenahan giat dilaksanakan. Pesantrenisasi, atau penerapan pola pesantren dengan prinsip-prinsip yang menguatkannya, boleh jadi sah jika diuji kelayakannya di dalam lingkup pemerintahan, yang dalam hal ini adalah pendidikan. Jika dipandang terlalu menggunakan jubah religiusitas di dalam tubuh pesantren sendiri, mungkin perlu diadakan re-concept, terkait teknis dan wacananya, agar lebih bisa berpadu dengan konteks global religion, dengan tinjauan semangat "persatuan Indonesia, yang berketuhanan Yang Maha Esa". Prinsip-prinsip theocentric, suka rela dan mengabdi, kearifan, serta mengagungkan ilmu, adalah tolak ukur menuju hidup yang manusiawi secara mayor, bukan cenderung islamic content, yang bersifat doktrinitas. Hanya saja, pesantren di sini mengerucutkan pola wacana dan terapan kependidikannya meruncing pada nilai-nilai yang bernuansa ilahi. (*)

Comments