BUKU DAN KEMANUSIAAN

BUKU DAN KEMANUSIAAN

Oleh: Em. Syuhada'

Kalau Anda pernah bersentuhan dengan penerbit buku yang memiliki motto Kami Melayani Ilmu Pengetahuan, atau paling tidak, pernah memanfaatkan produknya, Anda pasti tak asing dengan kalimat B – B = 0 dengan sederet kalimat di bawahnya Belajar Tanpa Buku adalah Omong Kosong. Awalnya, saya tidak mengalami peristiwa apapun terkait hal itu ketika membacanya dalam sebuah kalender milik penerbit di atas. Namun ketika mencoba merenungkan sederet kalimat yang dicetak dengan warna merah itu, tiba-tiba muncul pertanyaan yang begitu menggelitik, betulkah buku adalah sesuatu yang vital, sehingga keberadaannya begitu diperlukan dalam proses belajar? Betulkah belajar tanpa buku akan menyebabkan manusia tak akan memperoleh hasil apa-apa, selain hanya omong kosong belaka?

Saya kemudian mencoba melakukan semacam permakluman. Bahwa penerbit itu sebagian besar produknya adalah buku sekolahan. Artinya, kalimat itu lebih ditujukan kepada mereka yang terlibat dalam dunia akademisi, dalam hal ini menyangkut guru, siswa, serta para praktisi dunia pendidikan formal lainnya. Pada sisi lain, keberadaan penerbit tak bisa dilepaskan dari kapitalisme yang salah-satu ideologinya adalah profit oriented. Maka, adalah hal yang wajar jika ia menciptakan kalimat “cerdas” yang meletakkan buku sebagai sesuatu yang vital dalam proses pembelajaran.


Namun, satu hal yang patut digarisbawahi, bahwa belajar adalah kewajiban seluruh umat manusia. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda, bahwa mencari ilmu (baca; belajar) tak dibatasi usia? Bahwa kewajiban mencari ilmu berlaku untuk semua orang, tidak hanya didominasi oleh mereka yang kebetulan diperkenankan mengenyam bangku sekolahan?

Membentuk Kemanusiaan secara Utuh 


Tak dimungkiri, belajar memang hal yang sangat esensial dalam kehidupan. Manusia sebagai makhluk intelektual tentu harus terus belajar untuk mempertahankan harkat kemanusiaannya. Permasalahannya kemudian, bagaimana manusia harus belajar? Apakah jalan satu-satunya belajar adalah dengan melalui sebuah lorong yang bernama sekolah, dimulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi? Dan dengan demikian, manusia tak memiliki kemungkinan untuk memasuki lorong-lorong yang lain? 

Dilihat dari ranah kognitif, belajar adalah upaya yang dilakukan untuk mengubah keadaan dari kondisi tidak tahu menjadi tahu. Pada dataran ini, ketika manusia tidak tahu terhadap disiplin ilmu tertentu, ia bisa belajar dengan menggunakan bantuan media, baik berupa sekolah, guru, buku, internet, maupun media pembelajaran lainnya. Namun, pengertian belajar dari sudut pandang ini sifatnya parsial. Artinya, ilmu yang diperoleh masihlah ilmu al-madrasah. Tahapnya berupa pengetahuan yang tak ada jaminan apakah diterjemahkan ke dalam sikap, apalagi akhlak. Hal ini terbukti  dengan kondisi riil masyarakat pada kurun waktu terakhir, betapa peningkatan jumlah sarjana universitas ternyata tidak berbanding lurus dengan peningkatan moral atau akhlak. Bukankah tiap hari dapat kita saksikan melalui layar televisi, betapa degradasi moral telah demikian akutnya merambah kebudayaan masyarakat, bahkan terhadap semua strata?

Namun ada model belajar yang kedua, ialah belajar dengan pengertian secara integral dan utuh. Proses dimana manusia berusaha sedemikian rupa untuk secara terus menerus memahami kemanusiaannya. Tentang dari mana ia berasal, untuk apa ia ada, dan akan kemana kelak ia harus mengarahkan hidupnya. Belajar dengan pengertian semacam ini sungguh sangat berbeda dengan pengertian yang pertama.


Dalam menjalani proses ini, manusia harus setia kepada hati nuraninya, dan tentu saja harus menghidupkan sedemikian rupa potensi pada dirinya untuk menghayati, merenungi dan men-
tafakkuri segala sesuatu yang tersebar di alam semesta. Pada tahap ini, yang diutamakan bukanlah mengetahui, tapi mengalami. Inilah yang dinamakan ilmu al-hayat, ilmu kehidupan. Maka keberadaan buku, guru atau sekolahan bukan menjadi sesuatu yang niscaya. Ia bahkan menjadi hal yang boleh tidak ada dalam tahap dan batas-batas tertentu. 

Adalah menarik memperhatikan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tuhan memerintahkan membaca dengan bahasanya: Iqra’ (bacalah). Tapi amar (perintah) itu tak disertai dengan maf’ul bih (obyek yang harus dibaca), justru kalimat sesudahnya adalah bismi rabbikalladzi khalaq. Artinya, membaca dalam konteks ini bisa dimaknai secara lebih luas dengan tak hanya melulu menjelajahi isi buku. Membaca adalah aktifitas manusia meneliti setiap detak peristiwa yang berjalin-kelindan dalam  kehidupan untuk dipungut hikmahnya. Membaca bisa pula diartikan menelusuri dan memahami setiap ‘fasilitas’ yang telah disediakan Tuhan berupa Al-Qur’an, alam semesta, dan manusia. Kesimpulannya jelas, membaca bukan hanya berasyik-masyuk dengan ayat-ayat qauliyah. Namun tak kalah pentingnya adalah mencerna setiap ayat kauniyah yang berkelibat dalam ruang kehidupan. 

Dalam kerangka itu, prosesi iqra’ tetap harus berada dalam koridor bismi rabbikalladzi khalaq. Artinya, kesadaran membaca yang bermuara pada maqam intelektualitas, tak boleh dilepaskan dari kesadaran ketuhanan yang berpuncak pada spiritualitas. Sedalam apapun manusia mengarungi samudra intelektualitas, ia tetap harus berada dalam perahu spiritualitas. Ketika manusia mengabaikan rumusan ini, yang terjadi bukan hanya kekeringan ruhaniah dan kedahagaan spiritualitas. Bahkan pada skala yang jauh, manusia akan tercerabut dari akar hidupnya. Ia akan mengalami keterasingan sedemikian rupa dengan dirinya sendiri yang berujung pada lupa kepada Tuhannya.

Sebenarnya, Tuhan menciptakan seremeh apapun makhluk tak ada satupun yang sia-sia. Ketika manusia melihat langit terbentang di cakrawala, dedaunan yang gugur, matahari menyinari bumi, hujan turun dari langit, desiran angin, gejolak ombak, burung-burung beterbangan di angkasa, itu semua adalah media yang disediakan Tuhan untuk proses pembelajaran manusia. Lebih dari itu, manusia juga bisa belajar kepada dirinya sendiri, kepada kesalahan-kesalahan masa lalu, kepada pengalaman-pengalaman, dan bahkan kepada setan atau iblis sekalipun. Bukankah setan yang
notabene menyatakan perlawanan kepadaNya ternyata masih menyimpan takut kepada Tuhan?.
Begitulah, belajar memang perlu, bahkan mutlak dilakukan. Tapi bagaimanakah belajar yang benar-benar belajar? Cukupkah hanya dengan mengandalkan buku-buku yang ditulis oleh para pakar? Ataukah berupaya naik setingkat lebih tinggi dengan memaksimalkan potensi ruhaniyah untuk memahami realitas kehidupan? Semuanya berpulang kepada diri kita masing-masing. Sebab dalam kehidupan ini, kitalah yang akan menentukan siapa kita, bukan orang lain.(*)  

Comments