Stigma Mewabah pada Juri Lomba

Stigma Mewabah pada Juri Lomba

Dalam sebuah perlombaan, pikiran negatif memang kerap muncul, lumrah. Apalagi, lomba tersebut menerapkan penilaian subjektif, seperti pantomim, menggambar, presentasi, atau lomba-lomba sejenis.

Pernah suatu ketika, saya diberi amanat menjadi juri inovasi sains. Juri yang diberi tugas saat itu berjumlah tiga, semua dari guru SD kecamatan setempat. Stigma umum yang mewabah, jika juri dari guru tingkatan peserta lomba, maka otomatis akan menilai baik untuk anak didiknya. Wajar, secara manusiawi sifat tersebut tidak dapat terelakkan.

Namun sebenarnya, lomba yang menggunakan minimal tiga juri, tidak mendominasi perolehan nilai karena masih ada dua juri lainnya yang belum tentu memberikan nilai bagus (juga). Kecuali, kalau jurinya hanya dua, memang sangat rentan terjadi demikian.

Untuk meminimalkan kecurangan, kami bertiga sepakat untuk tidak menilai siswa masing-masing. Jadi masing-masing juri menilai seluruh peserta kecuali peserta yang merupakan siswanya di sekolah. Hasilnya, ya tidak jauh berbeda. Heuheu.

Comments