NASKAH MONOLOG "TUA" - 1 TAHUN MEMBACA PERISTIWA

NASKAH MONOLOG "TUA" - 1 TAHUN MEMBACA PERISTIWA

Tidak terasa, setahun sudah launching buku "Membaca Peristiwa". Acara ini hanya aksi biasa yang tidak ada tujuan apa-apa, selain berproses bagi diri masing-masing dalam dunia kepenulisan.

Masih teringat, tampilan monolog yang disajikan oleh saudara Slamet Niko, seniman Lamongan yang juga jebolan kampus seni terkemuka di Indonesia. Dalam tampilan tersebut, tersirat pesan kepada guru-guru Lamongan, dalam hal ini dikaitkan dalam karya-karya menulis.

Berikut, kita bisa menyimak tampilan Slamet Nika dalam Monolog "Tua". Selamat menyaksikan!.

Naskah Monolog "Tua" karya Putu Wijaya:

Di depanku berdiri seseorang yang barangkali aku sudah kenal benar. Mungkin juga tidak. Aku tidak tahu siapa namanya. Perawakannya sederhana. Ia tidak membawa apa-apa. Matanya juga hanya dua, dengan sorot yang biasa. Bahkan ia tersenyum manis dan mengatakan:

Apa kabar?

Tapi aku cemas. Aku merasakan ada bahaya dalam ketenangan sedang merambat perlahan-lahan hendak menjangkau leherku. Aku merasa terpepet ke sudut dengan sopan dan kemudian pada akhirnya nanti dengan lemah-lembut akan diminta untuk menyerah.

Aku tidak siap untuk menyerah. Karena aku merasa masih perlu untuk menunjukkan, kalau diberi kesempatan lebih lama, mungkin aku sanggup bekerja lebih baik, termasuk memperbaiki kekeliruan-kekeliruanku di masa yang lalu. Sayangnya, waktu tidak bisa menunggu.

Orang itu bertambah dekat.

Akhirnya aku terpaksa mambela sebelum diserang. Aku memanggil – ya Allah apa yang harus aku ambil? Di sana hanya ada sebuah kursi. Kursi itu terpaksa aku angkat. Kemudian aku lemparkan kursi itu ke arah orang itu. Kena. Tepat. Muka langsung terluka. Darah menetes dari dahinya, masuk ke dalam matanya. Matanya itu terpejam, lalu darah tergelincir ke atas pipi bercampur dengan air mata.

Tetapi langkahnya tetap diayunkan menghampiriku.

Aku jadi panik. Aku berteriak minta tolong. Panik aku gapai telepon untuk memanggil polisi. Tetapi ada orang bicara terus di dalam telepon. Dengan dongkol telepon itu aku lemparkan ke mukanya.

Tepat mengenai hidung orang itu.

Hidung itu luka, darah menetes dari hidung masuk ke dalam mulutnya. Mulut itu bergerak, lalu dia meludah, dahak yang kental.

Aku mundur, merapat ke tembok. Dia mulai mendesak. Aku beringsut ke sudut. Sekarang aku mencoba menendang, kemudian memukul. Sesudah itu menggigit. Aku kalap. AKu ngamuk. Aku tak melihat apa-apa lagi. Orang itu sudah terlalu dekat. Baunya terasa. Tubuhnya menyentuh. Aku dilandanya.

Tidak!

Aku gepeng. Aku coba juga meronta, tapi tak berdaya. Tak ada gunanya. Aku coba lagi berteriak, tapi suaraku juga sudah habis. Tenagaku terkuras. Akhirnya orang itu masuk ke dalam tubuhku. Ia masuk ke dalam jantung. Ia masuk ke dalam kepala. Ia masuk ke perut, mengalir ke seluruh tubuhku. Ia menusuk ke dalam sanubariku. Ia menjalari sukmaku. Aku menjerit dan melenting.

Ooo!



Comments