Bijak Merespon Kegagalan

Bijak Merespon Kegagalan

Oleh: Djuhaeri, M.Pd.

Banyak guru beranggapan, bahwa siswa berdatangan ke sekolah karena mereka bergairah untuk belajar. Anggapan begini tidak selalu benar. Sebagian, mungkin malah sebagian besar, siswa itu bisa jadi ke sekolah karena harus ke sekolah. Mereka belajar karena keharusan belajar, bukan karena ingin belajar. Kita tak bisa beranggapan bahwa siswa dengan sendirinya termotivasi belajar, dan guru tidak perlu memberi motivasi mereka untuk belajar.
Motivasi adalah faktor penting untuk meningkatkan keberhasilan belajar, bukan hanya teknik pembelajaran mutakhir atau teknologi mendidik yang dianjurkan untuk diperkenalkan kepada siswa. Sekolah harus menciptakan suasana pembelajaran yang motivasional, bukan karena teknologi tidak penting. Hanya, bagaimanapun, teknologi tetap harus disertai dengan suatu motivasi.
Siswa yang tidak termotivasi ngangsu ilmu di sekolah tidak akan punya gairah belajar. Jika tak bergairah belajar, sulit mengharapkan siswa berhasil. Bila situasi tanpa gairah ini berlarut-larut, maka proses belajar dapat berubah menjadi pengalaman pahit yang dibenci siswa.
Pertanyaannya adalah bagaimana kiat guru agar anak didik bergairah belajar? Saat seorang anak baru belajar menghadapi lingkungan, dua hal mungkin terjadi, yakni gagal atau berhasil. Ketika anak baru belajar mengendarai sepeda, misalnya, dia sering terjatuh. Dia masih gagal. Namun, tanpa kenal lelah, dia berdiri lagi, berusaha lagi mengendarai sepeda itu. Setelah melalui proses jatuh bangun berulang-ulang, akhirnya dia mampu bersepeda. Dia sudah berhasil.
Begitu pula halnya saat siswa menggeluti konsep-konsep baru berbagai pelajaran di sekolah. Awalnya akan terasa sulit. Ini sering dilupakan guru. Mereka lupa bahwa sang siswa baru berada pada tahap belajar untuk belajar.
Kegagalan dan keberhasilan bagi anak normal berkaitan erat dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Maka, ketika dia gagal pada awal belajar, itu bukan kegagalan mutlak. Jika guru keliru menyikapi kegagalan semacam ini, akibatnya bisa fatal. Bisa jadi anak akan gagal permanen karena dia cedera secara mental akibat sikap keliru sang guru.
“Tolol amat sih kamu. Bagaimana dapat juara bila seperti itu caramu baca puisi!” Komentar semacam itu tentu melukai perasaan siswa, yang sudah berusaha keras tampil  bagus pada lomba baca puisi tapi tetap gagal juara.
Sebagai guru, hendaknya kita memberi respons dan dukungan positif. Respons yang membesarkan hati anak, bukan menyikapi kegagalan siswa dengan komentar pedas yang mematikan. Sekulum senyum, seucap kata pujian, bahkan satu tepukan di pundak dan ajakan untuk kembali berlatih, cukup untuk memotivasi siswa.
Bentuk motivasi itu akan mengobarkan kepercayaan diri dan keberanian siswa untuk terus eksis sebagai pembaca puisi. Dukungan itu tentu tidak boleh abang-abang lambe, sekadar basa-basi. Lewat interaksi, kita sampaikan keunggulan tampilan siswa, juga kekurangannya yang perlu dipoles lebih lanjut.
Ejekan atau komentar pedas akan mempermalukan siswa. Bahkan, komentar begitu bisa membunuh semangatnya sebagai manusia. Siswa yang semula bergairah untuk berhasil bisa merasa telah menjadi manusia gagal. Sejak itu, mungkin bahkan selama hidupnya, dia akan membenci aktivitas baca puisi. Karena malu, dia memilih tidak berbuat. Sebab, jalan itulah yang dia rasakan terbaik untuk menghindari kegagalan. Sungguh tragis. Bukankah kegagalan yang sebenarnya adalah ketika kita berhenti berusaha?
Trauma kegagalan harus dihilangkan. Upaya paling tepat adalah meningkatkan motivasi. Di sinilah peran penting guru sebagai motivator. Dengan motivasi positif, siswa mampu mengatasi trauma yang cenderung menghambat keberhasilan.
Bila guru mampu hadir dalam dunia siswa sebagai teladan keberhasilan. Dengan kompetensi profesional yang dimiliki, guru selalu siap memotivasi seswa untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Mendampingi siswa yang enggan berusaha, yang malas belajar, yang tidak berinisiatif, yang gagal. Di sini guru menampilkan diri sebagai sumber kekuatan, sumber motivasi. Sehingga siswa berbondong-bondong ke sekolah karena memang ingin belajar, bukan karena “harus” ke sekolah. Semoga.(*)

Djuhaeri, M.Pd., penulis merupakan guru SDN Jetis IV Lamongan yang biasa dikenal dengan Herry Lamongan

Comments