MENJADI IMAM

MENJADI IMAM

gambar: pixabay.com

Dalam lawatan ke padepokan Gus Zareez, kami berlima tak melewatkan kesempatan untuk nongkrong bersama. Di teras, lesehan, dengan hidangan kopi gelas yang isinya kopi luwak asli. Kabarnya, kopi ini harganya dua juta untuk seperempat kilonya.

Kami ngobrol, dari rencana menulis buku hingga hal-hal yang sebenarnya tidak penting, tapi tetap asyik.

"Anu Gus, bagaimana dengan rencana yang kita obrolkan di WA dulu", tanyaku sambil nyamber godho gedhang di piring dekat gelas kopiku.

"Ya itu, kita buat seperti konsep Negeri Bahari", sahutnya sambil menyembulkan asap dari mulutnya. Asapnya berbentuk lingkaran-lingkaran.

Juki, Kipli, dan Thoyib hanya khusyu' mendengar kami berbincang. Mereka juga menyantap godho gedhang, mumpung gratisan.

Adzan Ashar terdengar, nyaring, dari musholla yang tak jauh dari pondok Gus Zareez.
"Ayo, sholat Ashar dulu", ajak Gus Zareez.

Kami mengambil wudlu bergiliran karena tempat wudlu yang tersedia cuma satu.

"Ayo Mas, kamu yang menjadi imam, biar aku yang bagian iqomah", kata Gus Zareez.
"Hmm, anu Gus", jawabku bingung.

"Lho kok saya. Saya gak bakat jadi imam Gus, saya tidak pandai membaca surat-surat pendek. Lagi pula kalau saya imam, mana mau mereka bertiga menjawab Aamiin. Bisa-bisa saya rukuk, mereka langsung sujud" timpalku sambil meringis.

Mereka berempat tertawa ngakak. Gus Zareez meyakinkan saya.
"Sampeyan bakat jadi imam, cuma gak pede saja. Toh sholat Ashar tidak pakai dinyaringkan".

Saya mengangguk-angguk, meski tidak yakin yang diucapkan ini memang benar atau hanya membesarkan hatiku saja.

Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada persamaan tokoh dan peran ya memang disengaja. Heuheu.


Comments