MAHKAMAH TANPA MAKNA (Puisi Herry Lamongan)

MAHKAMAH TANPA MAKNA (Puisi Herry Lamongan)


Mahkamah tanpa Makna
Herry Lamongan


Ia menunggu, di muka arloji detik dan suasana
Sambut menyambut merumuskan episode hari
sampai ke tahun
Pria itu dengan segala siasat, menghapus berkas sepatunya
Yang membusuk dilantai
Sesekali lancar mulutnya menyembur kisah-kisah jenaka,
Mungkin sekadar menghibur diri
“Saya cuman mendelegasikan”
Tak ada dalam bukti, bahwa delegasi itu
Telah tiba kepada tujuan, saksi-saksi sudah lama menolaknya
Semakin bercak noda di lantai
Ketika sambil enggan, tak mampu ia
Mengelak keputusan yang memang seharusnya ia terima
“Saya mengajukan ralat”
Tak sedikitpun tersisa rasa malu pada dirinya
Otang-otang ketawa mendengar berita itu,duka
Dan bertanya di muka arloji waktu terus bergulir
Kelam seperti petang,menghilang warna tahun
Pria itu menunggu antara debar dan peluh
Sore belum lagi penuh
Ketika resmi ia dibikin putih, tapi langit tetap saja kelabu
Gagak bersahutan menandai
Mahkamah ambruk tiba-tiba
“ Semua mesti lapang dada menimba comberan pekat ini “
O bumi berkabung
Mungkin geli

Madedadi, Maret 2004

Biodata Herry Lamongan
Nama Aslinya Djuhaeri. Lahir di Bondowoso, 8 Mei. Serius menulis sajak dalam Bahasa Indonesia dan Jawa Sejak 1983. Karya-Karyanya pernah dimuat sejumlah media cetak, antara lain: Pelita, Berita Buana, Horison, Merdeka, Simponi, Sawadesi, Hai, Gadis, Singgalang, Mimbar Umum, Analisa, Kedaulatan Rakyat, Yogya Post, Jaka Lodang, Mekar Sari, Eksponen, Wawasan, Cempaka, Karya Darma, Memorandum, Surya, Surabaya Post, Jawa Pos,  Mingguan Guru, Media, Jaya Baya, Penyebar Semangat, Tebu Ireng, Akcaya, Bali Post, Kali Mas, Karya Bakti, Nusa Tenggara, Suara Rakyat Semesta, Variasari-Malaysia, Salam, Jawa Anyar, Radar Bojonegoro, Tabloid Telunjuk, Suluk, serta banyak buletin sastra yang pernah terbit di berbagai kota. 
Puisi-Puisinya terhimpun dalam: Surat Hening, Latar Ngarep, Ibukota Bahasa, Equator, Moh, Danau Angsa, Dll. Herry bermukim di kota alit Lamongan, sebagai kesaksiannya yang sederhana atas kehidupan ia akan terus nenulis sajak.

Comments