POKEMON GO, BUTUH PENGENDALIAN UNTUK MENJADI HAL YANG POSITIF

POKEMON GO, BUTUH PENGENDALIAN UNTUK MENJADI HAL YANG POSITIF

POKEMON GO, BUTUH PENGENDALIAN UNTUK MENJADI HAL YANG POSITIF
Oleh: Nur Kholis Huda, M.Pd.

Pertumbuhan smartphone di dunia maupun di Indonesia, memberikan dampak perkembangan varian game yang begitu pesat. Magnet industri ini mampu mendorong menjamurnya developer-developer lokal. Saat ini terdapat lebih dari 400 developer dengan lebih dari 1.000 game telah dilahirkan. Dari sisi konsumen jumlah gamers di Indonesia, diperkirakan telah mencapai sekitar empat puluh juta orang. Permainan game online yang semula hanya didominasi oleh game PC, pelahan tergantikan oleh game berbasis android atau smartphone. Yang salah satunya sempat ramai diperbincangkan adalah Pokemon GO.

Pokemon Go kian membuktikan kesuksesannya. Game besutan Niantic itu dilaporkan membukukan pendapatan total (gross revenue) US$ 440 juta atau setara Rp 5,8 triliun sejak meluncur Juli lalu. Tentu saja dengan hasil ini, Pokemon Go menduduki puncak Top Charts aplikasi paling banyak diunduh dan aplikasi yang paling berpendapatan tertinggi di App Store. Di mana dari laporan Super Data Research, diperkirakan Pokemon Go sudah meraup untung sekitar Rp 184 miliar dari platform iOS dan Android.

Banyak kalangan yang menilai bahwa game ini memberikan dampak negatif. Mulai dari kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa akibat kelengahan dalam mencari monster Pokemon GO saat berkendara, kekhawatiran bocornya lokasi-lokasi terlarang baik di wilayah pemerintahan atau wilayah militer yang menjadi pusat keamanan negara, dan juga waktu efektif kerja yang disalahgunakan.

Di tengah kontroversi tersebut, ternyata game ini juga bisa memberikan dampak positif. Dengan sistem permainan secara augmented reality yang memanfaatkan GPS dan kamera belakang, game ini seakan mendekati kenyataan yang membuat para pemain untuk berjalan mencari monster Pokemon GO. Berbeda dengan game-game android lainnya yang secara umum dimainkan dengan duduk, Pokemon GO secara tidak sadar “merangsang” pemain untuk bergerak. Dalam kemasan suasana yang menyenangkan, metabolisme tubuh pemain seakan tidak disadari bekerja layaknya orang yang berolahraga.

Selain itu, Pokemon GO memungkinkan sebagai sarana sosialisasi dan wisata keluarga. Dengan memainkannya, maka kita harus keluar rumah untuk menangkap virtual monster dalam permainan. Jika permainan ini dimainkan secara berkelompok, apalagi dimainkan dalam kelompok keluarga, maka permainan ini bisa menjadi sarana wisata keluarga yang dapat meningkatkan hubungan dekat antar anggota keluarga. Dengan demikian, orang tua bisa mengontrol aktivitas dan menjalin komunikasi dengan anak-anak. Yang pastinya, dapat menangkal kegiatan-kegiatan lain yang dampaknya lebih buruk dari bermain game Pokemon GO.

Dalam setiap permainan, jika dilakukan secara berlebihan, pastinya akan berdampak buruk. Sesuai dengan himbauan Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemenkominfo, Ismail Cawidu seperti dilansir dalam Kompas pada Sabtu (27/7/2016), hendaknya para pemain lebih berhati-hati dan tidak nge-game dalam keadaan bekerja atau berkendara. Hal ini juga terjadi dalam permainan Pokemon GO yang banyak dimainkan oleh kalangan pegawai. Konsentrasi dan tenaga para pemain dari kalangan pegawai dapat tersedot dalam permainan ini.

Untuk menyikapi hal tersebut, pastinya dibutuhkan aturan dan kontrol dari pemain itu sendiri. Kontrol yang dimaksudkan bisa berupa batasan waktu, kapan bisa memainkannya dan kapan berhenti. Sehingga, waktu bermain tidak mengganggu jam kerja efektif. Kontrol lain bisa berupa pengendalian Pokestop, yaitu tempat- tempat di mana bisa ditemukannya item-item dalam permainan ini. Pemain harus bisa mengendalikan tempat yang bisa digunakan untuk berburu atau tidak, sehingga kekhawatiran akan kebocoran rahasia negara ataupun dampak kecelakaan bisa dihindari.

Dimuat di Majalah Media Pendidikan Jatim Edisi November 2016

Comments