MENULIS TIDAK HARUS MAHIR

MENULIS TIDAK HARUS MAHIR


Menulis Tidak Harus Mahir
Catatan Nur Kholis Huda
Ramadan, hari kelima

Pernahkah Anda menulis? Iya, hampir semua orang sudah pasti pernah menulis. Namun, dalam hal ini yang dimaksud menulis adalah menuangkan ide atau gagasan yang dipublikasikan dalam bentuk artikel baik versi cetak atau digital.

Menulis memang bukan hal mudah, tapi jangan menganggap sebagai hal yang susah. Menulis, menurut saya hanya butuh kemauan dan tindakan untuk merealisasikan. Saya teringat sekitar tiga tahun lalu, berawal dari kejenuhan dalam rutinitas. Saya mencoba memberanikan diri untuk belajar menulis. Saya hanya modal nekat untuk berani datang pada pelatihan menulis yang waktu itu diselenggarakan oleh Media Guru di LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Jawa Timur. Tanpa biaya. Hanya bermodal satu buku untuk disumbangkan (saat itu).

Pada kegiatan tersebut, ternyata antusias guru Jawa Timur dalam menulis sangat tinggi, peserta menembus angka tiga ratusan, bahkan lebih. Saya yang masih berstatus sebagai pemula sebenarnya merasa canggung, kurang percaya diri, ketika melihat guru-guru yang rata-rata sudah senior dan banyak menelurkan karya dalam hal menulis.

Sambil menunggu acara dimulai, sejenak, saya keluar ruang sambil menunggu acara dimulai. Nah, disini awal keyakinan saya bahwa menulis tidak harus mahir.
Lho, kok bisa?
Di parkiran?.
Iya, benar. Saat di parkiran gedung LPMP Jatim, saya bertemu teman semasa SD, namanya Agung Putu Iskandar atau dalam dunia jurnalistik beliau dikenal dengan Aga Agung. Setahu saya, beliau pernah menjadi wartawan Jawa Pos dan saya sering mengikuti ulasan beritanya kala tugas dalam liputan Piala Dunia Brazil dan Piala Eropa Ukraina.

Awalnya, saya kira Mas Putu akan menjadi salah satu narasumber, ternyata bukan. Mas Putu ternyata sedang ada janji temu dengan Bapak Satria Dharma (salah satu pelopor pelatihan menulis yang saya ikuti). Kami ngobrol, lumayan lama, tanya kabar hingga tanya alasan keberadaan kami di LPMP.

Singkat cerita, sebuah kalimat yang sampai sekarang masih saya ingat.
"Jangan meremehkan orang yang niat menulis, sekarang tidak mahir, siapa tahu lima tahun yang akan datang, bisa jadi penulis handal", katanya. Dari ungkapan beliau ini, saya semakin percaya diri untuk mencoba menulis meski tidak mahir.

Saya selalu mencoba menulis apa yang saya baca dan saya temukan dalam keseharian. Bermula dari tulisan yang berantakan hingga sekarang bisa dikatakan lumayan, meski belum indah dan layak. Paling tidak, proses menulis bisa menjadikan kita menuju mahir menulis. Jangan menunggu bisa atau mahir, lantas kapan memulainya?.

Seperti yang saya sampaikan di awal, dan inii harus saya ulang berkali-kali, menulis tidak harus mahir. Menulis hanya butuh niat dan tindakan dalam menulis. Setelah itu, tinggal konsistensi, bagaimana ketahanan kita dalam mengatur waktu untuk tetap meluangkan tenaga, waktu, dan pikiran dalam menulis. Semua orang sibuk, tapi dalam kesibukan itu mari kita luangkan waktu untuk menulis.

Comments