ANTARA GUPRES, OGN, DAN INOBEL

ANTARA GUPRES, OGN, DAN INOBEL


Kesharlindung sebagai pelaksana program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan selalu memberikan pelayanan maksimal kepada guru-guru di Indonesia. Baik kesharlindungdikdas (yang menangani SD dan SMP) maupun kesharlindungdikmen (yang menangani SMA/ SMK) selalu meningkatkan pelayanan terhadap peningkatan kesejahteraan guru-guru, terutama guru-guru yang selalu mengupgrade kreatifitas, inovasi, dan pengetahuannya dalam dunia pendidikan.

Sebagai bentuk penghargaan, salah satunya yaitu diadakannya berbagai perlombaan, antara lain yang sering dan rutin digelar yaitu: Gupres, OGN, dan Inobel.

Dari tahun ke tahun, pelayanan terhadap pelaksanaan lomba-lomba tersebut mengalami perbaikan. Dari yang bersifat offline hingga online melalui web kesharlindungdikdas dan kesharlindungdikmen. Tentunya hal ini mempermudah dalam pengiriman naskah dan memungkinkan untuk selalu memantau perkembangan informasi, baik peserta atau perubahan aturan yang berlaku pada lomba.

Dari ketiga lomba tersebut, saya pribadi pernah mencoba, bukan karena bisa, melainkan karena ingin mencari pengalaman pada lomba-lomba tersebut. Menurut pendapat beberapa kawan guru yang saya kenal dalam beberapa event nasional, saya simpulkan bahwa ketiga lomba tersebut seakan terbentuk semacam kasta. Entah atas dasar apa anggapan itu bisa tercetus dalam pemikiran para guru hebat ini.

Setelah saya mencoba, memang ada sedikit perbedaan karakter dari ketiga lomba tersebut. Namun, bukan berarti ketiga lomba memiliki tingkat kesulitan berkasta, kalau menurut saya pribadi, justru ketiga lomba ini memiliki karakter yang berbeda, dan sama-sama memiliki tantangan pastinya.

Baik, saya akan coba mengulas satu persatu menurut pengalaman saya. Perlu diingat, bahwa ulasan ini bersifat pribadi, jadi pembaca dan sahabat sekalian tidak harus percaya. Paling tidak, anggap sebagai referensi saja.

1. Gupres (Guru Berprestasi)
Perlombaan ini memang dikenal bergengsi, mungkin karena dalam perlombaan ini mencakup beberapa komponen yang harus dipenuhi, mulai dari portofolio (yang menyajikan rekaman jejak prestasi kita sebagai guru), KTI (karya tulis ilmiah) sebagai bentuk tingkat kreatifitas kita dalam penelitian di bidang pendidikan, presentasi, dan wawancara, juga ada tambahan psikotes. Nah, kalau psikotes ini sendiri saya sangat trauma, karena disinilah saya gagal di tingkat provinsi.
Untuk portofolio, mungkin akan menyedot banyak dana dari kantong kita. Ya siapa lagi akan memberikan biaya kalau bukan kita sendiri. Tapi tidak apa, toh ini juga buat kita dan daerah kita pastinya. Diniati ibadah sajalah.

2. OGN (olimpiade guru nasional)
Olimpiade guru nasional diselenggarakan berdasarkan mapel yang diampu. Saya sebagai guru SD pastinya saya mengikuti olimpiade sebagai guru kelas. 
Untuk tahun 2018, penyisihan kabupaten dilaksanakan secara online. Saya kebetulan mewakili kabupaten saya pada seleksi tingkat provinsi Jawa Timur. Namun, saya ingatkan kembali bahwa saya mewakili kabupaten bukan berarti saya pandai, hanya karena tidak ada yang mendaftar (hanya 3 pendaftar).
Pada pelaksanaan di Jawa Timur, soal dan segala perangkat lomba disediakan langsung dari pusat. Menurut saya ini sangat menarik karena patokan yang digunakan sama.
Pengalaman saya pada tingkat provinsi ini, terus terang membuat saya "kapok". Dalam waktu 3 jam peserta (guru kelas SD) harus mengerjakan 60 soal pilihan ganda dan 20 soal uraian. Bentuk soal mencakup pedagogik dan profesional. Untuk tingkatan guru SD, menurut saya soalnya sangat berat, indikatornya yaitu setelah 3 jam saya langsung migrain, heuheu.
Jadi, menurut saya guru yang lolos ke final nasional memang guru-guru yang hebat dalam kemampuan profesional, mereka menguasai 5 mata pelajaran bahkan sampai tingkat atas karena pada soal tidak dalam tingkatan sekolah dasar melainkan pengembangan hingga sekelas soal olimpiade. Dalam hal ini, saya angkat topi kepada guru-guru tersebut.

3. Inobel (Inovasi Pembelajaran)
Perlombaan ini, menurut kawan-kawan sebagai kasta terendah. Pasalnya dalam inobel tidak membutuhkan segudang prestasi dan kemampuan profesional dalam mengerjakan soal-soal berkelas seperti olimpiade.
Namun, menurut saya pribadi, inobel juga tidak kelas "cekeremes" kok. Dalam inobel, kalau sungguh-sungguh juga membutuhkan tenaga, pikiran, dan modal pastinya.
Menurut pengalaman saya, naskah peserta yang menang tidak bisa digarap asal-asalan, dalam sekejap mata langsung jadi. Saya yakin, merekapun berdarah-darah dalam pembuatannya. Bisa-bisa waktu pengerjaannya memakan waktu 2 bulan Bung!. Lupa anak, lupa istri, haha. Waduh janganlah ya, heuheu. Ya, semua itu tergantung kita mengatur waktu saja. Pastinya, kalau dikatakan lebih ringan, saya kurang setuju, setiap lomba mempunyai karakter tantangan yang berbeda.

Nah, mungkin itu yang bisa jabarkan menurut pengalaman saya. Jika ada kekurangan, ya mohon dimaafkan sajalah, biar tidak berdosa, heuheu.

Akhir kata, teman-teman guru yang belum mencoba, ayolah dicoba. Jangan tanya pesangonnya, sudahlah, insya Allah cukup buat ganti uang ngopi, heuheu. Salam.

Comments