ANCAMAN MOBILE LEGEND

ANCAMAN MOBILE LEGEND

ANCAMAN MOBILE LEGEND
Nur Kholis Huda, M.Pd.
Guru SDN Jetis III Lamongan


Zaman sekarang, segala sesuatu sudah mengarah pada kemajuan teknologi berbasis jaringan internet. Hal ini selain mempunyai sisi positif, tenyata juga menjadikan permasalahan besar dalam dunia tumbuh-kembang anak. Gawai canggih yang harapannya bisa membawa dampak positif, kenyataannya juga memberi pengaruh pada hal-hal negatif, salah satunya game online berbasis android.
Game online android semakin merajalela, tidak hanya kalangan remaja dan dewasa, tingkatan usia anak-anak sekolah dasar tidak kalah “maniak” dalam bermain game online berbasis android. Akhir-akhir ini, game android yang lagi nge-hits di berbagai kalangan yakni Mobile Legend. Game ini telah menghipnotis banyak kalangan gamer. Para pemain (diantaranya anak-anak) rela menggunakan waktunya berjam-jam hanya untuk meraih peningkatan level dalam permainan tersebut.
Meski beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak yang piawai dalam bermain game memiliki kreatifitas yang lebih tinggi jika dibandingkan anak lainnya, tetapi efek kecanduan game online Mobile Legend  berdampak buruk pada aktifitas belajar dan kesehatan anak.
Saat ini mungkin sudah tidak menjadi hal tabu bagi masyarakat, terlebih game online sudah menjadi salah satu gaya hidup semua kalangan. Namun, jika kita tidak bijak dalam merespon fenomena yang terjadi, kecenderungan pengaruh-pengaruh negatif akan semakin bermunculan.

Intensitas Belajar Menurun
Diakui atau tidak, gila game android Mobile Legend ini memberi pengaruh terhadap intensitas belajar anak. Permainan yang cukup lama, menyita waktu belajar mereka. Anak lebih banyak mengurung diri di dalam kamar bukan untuk membaca buku pelajaran, atau hanya sekadar bacaan-bacaan ringan yang seharusnya lebih menjadi asupan pengetahuan. Mereka terlalu asyik dan khusyu’ menikmati permainan hingga tanpa tersadar waktu berharga terbuang, terpusat pada dunia Mobile Legend.
Tidak sampai disitu, imbas candu game online Mobile Legend juga terlihat ketika berada di sekolah. Pada jam istirahat, kini mereka tidak memanfaatkan untuk membeli jajan atau bersosialisasi dengan temannya. Hal ini justru dimanfaatkan untuk memainkan gadget masing-masing. Tampak asyik menyelam dalam dunia game mereka masing-masing. Bahkan tidak jarang, sesekali mereka “mencuri” bermain game dari kelengahan guru ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung di dalam kelas.
Menjamurnya warung kopi dengan layanan free wifi juga mengambil peran dalam melancarkan aksi untuk bermain game. Tempat ini menjadi daya tarik luar biasa. Keterbatasan dalam membeli paket data untuk bermain game ini bisa teratasi. Cukup membeli es teh, mereka bisa bermain berjam-jam. Lupa waktu, lupa makan, pastinya lupa belajar.

Kerusakan Tubuh
Permainan ini membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi, hal ini tentunya memaksa anak-anak yang fokus bermain Mobile Legend harus menghadap layar gawai dalam waktu cukup lama. Dalam satu kali permainan, game ini bisa memakan waktu 10 hingga 30 menit. Pastinya, anak tidak akan puas jika hanya bermain satu kali permainan. Terlebih, banyaknya quest dalam permainan yang memberi imbalan hadiah semakin membuat pemain berlomba-lomba untuk meraihnya.
Dengan demikian, risiko kerusakan tubuh akan semakin bertambah. Bagian tubuh yang pertama dan paling berisiko adalah mata. Kondisi mata yang harus berhadapan radiasi layar gawai tentunya akan memicu terjadinya gangguan, dari mata merah hingga membuat mata menjadi rabun. Bagian tubuh lainnya juga akan merasakan dampak dari gila Mobile Legend ini. Anak akan sering lupa makan, lupa istirahat, yang pada akhirnya akan membuat kelelahan dan gangguan pada organ-organ pencernaan.
Yang paling berbahaya yaitu kerusakan pada otak, mulai dari penurunan konsentrasi belajar, gangguan sirkulasi seperti migrain atau vertigo, atau kelainan neurotransmitter dopamine sehingga mempengaruhi fungsi hormon, fungsi saraf, dan lain-lain. Ya, meski gangguan pada otak ini tidak terjadi dalam sekejap.

Pendampingan Orang Tua
Peran orang tua tidak bisa tergantikan dengan apapun, termasuk dalam pengawasan anak khususnya sekolah dasar dalam penggunaan gawai. Komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak sangat dibutuhkan. Keteladanan orang tua akan menjadi solusi terbaik untuk menghindari dampak-dampak negatif dari game online. Tentunya, konsekuensi yang dihadapi sangatlah besar. Bisa jadi, orang tua harus rela untuk tidak bermain game online, atau bahkan harus rela untuk tidak mengoperasikan gawai di hadapan anak-anak mereka.
Orang tua dan guru wajib memberikan arahan agar “ancaman” semacam itu tidak semakin membabi buta. Yang tentu menghabisi generasi penerus bangsa ini. Orang tua harus mengetahui sejak dini gejala-gejala yang terjadi. Kedekatan orang tua dengan anak juga dibutuhkan untuk menangkal pengaruh negatif, dalam upaya mengurangi bahaya permainan masa kini tersebut. Selain peran orang tua, peran guru di sekolah juga dibutuhkan dalam membendung ancaman Mobile Legend ini. Arahan dan monitoring berkala dari guru sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan dampak dari game online. Sebab, kalau itu terjadi, dampak dekonstruktifnya justru jauh lebih menjerumuskan. *

Comments