REFLEKSI MASA BELAJAR DI RUMAH

REFLEKSI MASA BELAJAR DI RUMAH

(Telah Dimuat di Majalah Media Pendidikan Jawa Timur)

Oleh: Nur Kholis Huda, M.Pd.
Kepala SDN Gondanglor 1 Sugio Lamongan


Pandemi Covid19 yang (akhirnya) menjangkit wilayah Indonesia memang membawa dampak yang sangat signifikan di segala bidang. Mulai dari politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan termasuk pendidikan. Segala upaya telah dilakukan untuk mencegah penyebaran virus ganas tersebut. Himbauan, ajakan, dan aturan untuk menghambat penyebaran sudah dilaksanakan pemerintah dengan keseriusan. Langkah pencegahan dalam ranah pendidikan misalnya, yaitu dengan penerapan model dan mekanisme keterlaksanaan pembelajaran jarak jauh dalam pendidikan formal, sedangkan pendidikan informal menyesuaikan.
Seperti kita ketahui bersama, sudah dua bulan lebih para siswa “dirumahkan” akibat pandemi Covid19. Rutinitas pembelajaran yang semestinya dilaksanakan di sekolah, dengan sangat terpaksa harus berubah menjadi kegiatan belajar di rumah. Harus kita yakini bahwa keputusan ini merupakan langkah terbaik untuk mengurangi penyebaran virus tersebut.
Kegiatan pembelajaran secara tatap muka jika dibandingkan dengan kegiatan belajar di rumah masa pandemi tentu sangat berbeda. Kecenderungan pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan dalam masa kegiatan belajar di rumah lebih terarah pada model pembelajaran dalam jaringan (daring). Tentunya, perubahan dan perbedaan ini memunculkan banyak permasalahan, mulai dari cara menyampaikan materi, media yang digunakan, hingga kemasan pembelajaran yang cocok untuk kegiatan masa pandemi. Selama ini, guru sudah nyaman dengan pembelajaran tatap muka, sehingga belum mengoptimalkan atau bahkan belum mengenal kegiatan daring.

Kendala Belajar di Rumah
Sarana prasarana dan minimnya kecakapan berteknologi seringkali menjadi faktor penghambat dalam kelancaran pembelajaran daring masa pandemi. Sekolah-sekolah di wilayah tertentu sangat merasakan kebingungan, mulai dari perangkat (laptop atau android) yang belum terpenuhi (baik pengajar, siswa, dan orang tua), hingga masih banyaknya tenaga-tenaga pendidik yang belum melek teknologi. Lucunya, ketika mereka sudah bersusah payah memperoleh perangkat, ternyata lebih susah mendapatkan sinyal jaringannya.
Bagi tenaga pendidik yang sudah mumpuni, mengoperasikan aplikasi pembelajaran mungkin terlihat seperti berlari. Bahkan, seringkali para pendidik golongan ini terlihat seperti perlombaan unjuk keahlian, menampilkan beragam aplikasi seperti: google classroom, moodlecloud, video conference, atau bahkan sudah menyiapkan LMS (Learning Management System) sendiri. Meski demikian, terkadang hal ini malah menyulitkan orang tua yang terbukti kewalahan dari sisi materi ditambah dengan ketidakmampuan menggunakan aplikasi itu sendiri. Namun bagi pendidik yang belum melek teknologi, mereka ibarat tersengal-sengal mengejar, nampak bersusah payah memanfaatkan aplikasi seadanya. 
Solusi pemerintah dengan mengadakan tontonan bersama melalui tayangan TVRI, nampaknya juga tidak berlangsung efektif. Banyak orang tua yang mengeluhkan kualitas gambar, kualitas tayangan, dari televisi nasional tersebut. “Rombongan semut” banyak meramaikan siaran-siaran pendidikan tersebut hingga inovasi membuat pembelajaran menarik serasa gagal. Meski sebenarnya ini bukan alasan, semuanya yang terpenting berasal dari niat dan kemauan.

Kesadaran dan Kerjasama
Menghadapi pandemi, kegiatan belajar di rumah adalah keputusan terbaik, terlepas dari segala permasalahannya. Keputusan ini bukan ide uji coba, juga bukan unjuk pemikiran untuk membuktikan kesuksesan pendidikan. Ini mutlak pola bertahan dari sebuah bencana non alam. Untuk itu, kegiatan belajar di rumah, bagaimanapun bentuk dan metodenya, hendaknya mendapat dukungan penuh dari semua kalangan, bukan hanya guru namun juga dukungan orang tua. Tanpa dukungan mereka, mustahil kegiatan belajar di rumah ini bisa berjalan dengan lancar.
Guru dan orang tua memiliki peranan yang besar di dalam kesuksesan pembelajaran pada masa pandemi. Guru sebagai fasilitator pembelajaran, terpacu untuk mengemas kegiatan semenarik mungkin agar tidak menjenuhkan. Selain dituntut melek teknologi, guru juga dituntut untuk berpikir kreatif dan inovatif menyajikan pembelajaran. Sedangkan orang tua, pendampingan dan pengawasan mereka juga sangat dibutuhkan dalam mengontrol kegiatan belajar di rumah. Hal-hal lain yang tidak bisa dipenuhi oleh guru, dapat tergantikan oleh peran orang tua, contohnya dalam masalah sikap. Pembelajaran daring akan sulit menyentuh aspek sikap, dengan peran orang tua aspek ini akan tercapai.
Orang tua hendaknya bersabar mendampingi segala aktivitas yang diberikan oleh guru terhadap siswa demi mencapai tujuan pembelajaran yang dilaksanakan di rumah. Keterlibatan orang tua akan menjadi daya rekat hubungan anak dan orang tua. Kearifan-kearifan lokal bisa perlahan ditanamkan dan dilestarikan dengan bimbingan dan pendampingan orang tua selama kegiatan belajar di rumah.
Dengan demikian, banyaknya narasi saling menyalahkan antara guru dan orang tua bisa dihindarkan. Justru, saat ini adalah momen yang tepat bagi guru dan orang tua untuk saling bekerja sama dan berkolaborasi demi mensukseskan tujuan pembelajaran pada masa bencana seperti saat ini.
Sudah saatnya orang tua memahami bahwa tugas mendidik adalah tugas bersama. Meski hal ini bukanlah perkara yang mudah, butuh kerja keras, ketelatenan, dan kesabaran. Jika guru dan orang tua memahami tugas mereka masing-masing dan dapat mewujudkan kerjasama yang baik, niscaya pembelajaran yang dikemas dan disajikan selama masa pandemi akan menghasilkan hal terbaik yang diinginkan. Akhir kata, mari kita semua berdoa agar pandemi Covid19 ini segera berakhir dari negara kita tercinta Indonesia. *


DMCA.com Protection Status

Comments